Wednesday, July 27, 2011

‘Berziarah’ ke Museum Taman Prasasti



Museum Taman Prasasti terletak di Jl. Tanah Abang I Jakarta Pusat. Dahulu, tempat ini merupakan pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk (Sekarang Mueum Wayang) yang sudah penuh. Pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti , nisan, makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu.*)

Februari 2009, memasuki areal museum, kami disambut oleh seekor rusa yang baru saja ditinggal mati pasangannya. Museum ini berupa taman berpohon besar rindang, dengan koleksi prasasti, foto-foto, miniatur makam 27 propinsi di Indonesia, peti jenazah Soekarno dan Hatta, serta kereta jenazah antik.




Seluruh mayat di taman makam ini sudah dipindahkan, kecuali makam Kapitan Jas yang tidak bisa dipindahkan karena mayatnya sudah terbelit akar pohon dan akan rusak apabila dikeluarkan. Meskipun bukan lagi berupa pemakaman, namun aura mistis syahdu masih bisa terasa di sini.

Beberapa prasasti yang dapat kita temukan di sini antara lain adalah A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng), Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda), J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh), Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura), Kapitan Jas (makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan), Miss Riboet (tokoh opera pada tahun 1930-an), Soe Hok Gie (aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an). *)

*) http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Taman_Prasasti


Tuesday, July 26, 2011

Ngarai Asa Green Canyon

Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, berjarak 31 km dari Pangandaran. Nama Green Canyon dipopulerkan oleh seorang wisatawan Perancis yang pernah berkunjung ke sana, dikarenakan sungai yang diapit oleh tebing-tebing tinggi , airnya berwarna hijau zamrud. Penduduk sekitar mengenal daerah tersebut dengan nama Cukang Taneuh yang artinya jembatan tanah karena terdapat jembatan yang lebar dan panjang menghubungkan antara Desa Kertayasa dengan Desa Batu Karas. Perjalanan dari Jakarta hingga ke Batu Karas dengan mobil pribadi ditempuh selama 5-6 jam, namun yang kami alami adalah 11 jam dikarenakan kemacetan.

Saya dan beberapa teman berkunjung ke sana di saat yang kurang tepat, karena bertepatan dengan long weekend di bulan Juli 2009. Reservasi di Penginapan Teratai yang dilakukan jauh-jauh hari ternyata tetap mengecewakan, karena sesampainya di sana, malam hari, kamar yang sudah kami pesan diberikan kepada pemilik penginapan yang sedang berkunjung ke sana, padahal selama perjalanan kami selalu berhubungan dengan contact person penginapan tersebut. Alhasil dengan tenaga yang tersisa, kami mencari penginapan yang masih tersedia. Namun sayangnya, itu sangat sulit, karena seluruh penginapan penuh. Kami mencari apapun tempat yang bisa digunakan untuk bermalam, dari hotel berbintang di Pangandaran hingga mesjid. Tapi hasilnya nihil. Bahkan mesjidpun tidak bisa dimasuki karena dikunci pada malam hari.

Untungnya, menjelang tengah malam, ketika kami sampai di penginapan The Reef di Batu Karas, secara kebetulan ada satu pengunjung yang akan keluar malam itu. Akhirnya kami menunggu beberapa jam untuk bisa masuk kamar. Kamarnya sederhana, hanya terdiri dari 1 spring bed king size, kipas angin, dan kamar mandi tak berpintu. Udara malam hari di sana ternyata lumayan dingin. Meskipun satu kasur sudah berlima dan tidak ada AC, tak disangka, kami masih kedinginan juga.

Esok subuh, dengan badan kaku (akibat tidur berdempetan dan kedinginan), kami bergegas berangkat ke Green Canyon. Loket pembelian tiket masuk ke Green Canyon dibuka pukul 7 pagi, tapi untuk menghindari keramaian, kami berusaha sampai sana sepagi mungkin. Tiket yang dibeli adalah untuk sewa satu perahu dan tiket masuk perorangan, dengan fasilitas seorang pemandu dan life jacket. Untuk mencapai lokasi canyon, kita menyusuri sungai Cijulang dengan perahu yang disebut ketinting berkapasitas 5 penumpang. Jarak dari dermaga ke lokasi canyon sekitar kurang dari 10 menit. Sepanjang perjalan, kami disuguhi pemandangan yang indah. Air sungai yang berwarna hijau zamrud, kanan kiri terdapat tebing tinggi yang ditumbuhi pepohonan, serta udara yang sangat sejuk.


Akhirnya, tibalah kami di tempat yang menyempit, hingga perahu tidak dapat lagi melewatinya, kami turun dari perahu dan bertengger di bebatuan. Dikarenakan banyaknya pengunjung, kami harus menunggu giliran untuk memasuki kawasan menyerupai gua tempat kami berenang-renang, inilah yang disebut sebagai Green Canyon. Sungai yang mengalir di batasi tebing-tebing tinggi yang mengungkung tempat tersebut menyerupai gua, di penghujungnya terdapat air terjun.


Untuk menyusuri sungai berwarna zamrud tersebut, kami berenang dan terkadang harus memanjat tebingnya.


Di sana juga terdapat spot tebing menjulang setinggi kurang lebih 3 meter untuk tempat loncat. Sungguh indah tempat ini, apalagi ketika kita sambil mengapung melihat pemandangan ke atas , rasanya segala penat telupakan. Tips untuk mengunjungi Green Canyon, datanglah di saat bukan musim hujan, karena saat musim hujan, air sungai tidak berwarna hijau, melainkan coklat dan aliran sungai menjadi deras, cenderung bahaya untuk direnangi.

Setelah menghabiskan waktu selama 2-3 jam, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. Ketika kami kembali ke dermaga, kawasan tersebut sudah penuh, lapangan parkir mobil yang tadi pagi masih lengang, saat itu sudah penuh sesak. Jadi, sangat direkomendasikan untuk datang ke Green Canyon sepagi mungkin untuk menghindari keramaian.

Kami makan siang di salah satu tempat makan di Batu Karas yakni Kang Ayi. Tempat ini direkomendasikan oleh seorang teman, katanya terkenal dengan pancake pisangnya. Di sana kami juga memesan seafood yang patut untuk dicoba.

Setelah makan siang, kami bertolak ke Pangandaran untuk mencari penginapan di sana. Lagi-lagi seluruh penginapan penuh, akhirnya kami mendapat sebuah kamar sederhana di suatu penginapan yang menyerupai tempat kos. Di depan penginapan, malam hari, terdapat tenda yang menjual sate ayam kampung yang tak disangka-sangka rasanya enak sekali.

Sore harinya, kami mengunjungi cagar alam di ujung pantai Pangandaran, berbentuk pulau. Kawasan ini bisa dicapai dengan perahu hanya berjarak kurang dari 5 menit, ataupun jalan darat. Kami membayar tiket masuk dan diantar berkeliling oleh seorang pemandu.

Di kawasan ini, terdapat goa Jepang yang konon beberapa kali sering dijadikan lokasi syuting adu nyali. Selain itu, terdapat goa alami dengan stalagtit dan stalagmit yang banyak menyerupai berbagai bentuk, seperti nenek lampir, alat kelamin pria dan wanita, dan banyak lagi.

Ada pula beberapa makam keramat yang dipercaya adalah makam keturunan Wali Songo. Sepanjang menyusuri kawasan cagar alam tersebut, kami melihat beberapa hewan liar seperti rusa, kera berlalu lalang dan bersembunyi dari pengunjung.

Malam harinya, kembali kami tidur berdesakan karena tempat tidur yang tersedia hanyalah 2 buah tempat tidur kayu single size. Meskipun banyak pengalaman tidak menyenangkan selama perjalanan, namun tetap tidak mengurangi esensi kenikmatan perjalanan kami.

Kemagisan Langit di Ujung Genteng

Pantai luas, langit superindah, penyu, dan air terjun!!! Semua bisa dilihat di Ujung Genteng. Ujung Genteng terletak di daerah Sukabumi, Jawa Barat, sekitar 200 km dari Jakarta. Nama Ujung Genteng artinya adalah tanah yang paling ujung (‘genteng’ adalah bahasa Sunda dari ‘tanah’). Ada pula yang mengatakan ‘genteng’ berasal dari kata ‘gunting’ karena jika dilihat di peta, Ujung Genteng terletak di daerah paling barat dari Jawa Barat yang tepiannya mirip bentuk gunting, dengan bagian utaranya adalah Ujung Kulon dan bagian selatannya adalah Ujung Genteng. Apapun artinya, bagian ‘ujung’nya adalah yang paling dapat dipercaya mengindikasikan letaknya. Lama perjalanan menggunakan mobil pribadi sekitar 7-8 jam dengan rute: Jakarta – Bogor – Cibadak – Pelabuhan Ratu – Kiara Dua – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng. Keadaan jalan relatif mulus, meskipun kadang melewati jalanan yang berlubang.

Perjalanan ini dilakukan sekitar bulan Mei 2009, bersama dengan 7 teman lainnya. Kami menginap di Pondok Hexa. Pondok Hexa merupakan penginapan berbentuk bungalow moderen, dengan berbagai tipe dan luas. Fasilitas tiap bungalow ada yang memakai AC, TV, ataupun dapur. Waktu itu kami mengambil 1 kamar berukuran sedang dengan AC dan TV, serta 1 kamar berukuran kecil dengan AC. Listrik penginapan berasal dari generatornya yang menyala 24 jam, namun seringkali mati sebentar lalu menyala lagi. Mengenai detail harga penginapan saya sudah lupa, tapi disarankan untuk melakukan reservasi dari jauh-jauh hari. Penginapan ini mempunyai fasilitas restoran juga, yang saya rekomendasikan adalah menu seafoodnya. Untuk menu lainnya, sebaiknya tidak usah terlalu menaruh banyak harapan.

Meskipun terdapat beberapa penginapan, namun kawasan Ujung Genteng masih terbilang sepi sehingga masih sangat enak untuk dijadikan tempat berlibur yang tenang. Untuk menjelajahi pantai-pantainya, kami menyewa rombongan remaja lokal yang menjadi ojek dadakan untuk sehari penuh, karena medan yang harus ditempuh cukup sulit untuk dilalui mobil biasa. Sepanjang perjalanan, melewati semak-semak (sebaiknya memakai celana panjang karena akan banyak besetan semak-semak), pantai yang surut, jalanan yang berbatu, dan lumpur.

Seperti pantai selatan lainnya, Ujung Genteng juga memiliki karakter pantai yang bergaris panjang, dengan ombak yang besar, cocok untuk surfing. Pantai yang paling enak untuk bersantai-santai adalah Pantai Panarikan karena merupakan pantai yang paling luas dengan pasirnya yang lembut dan putih.

Yang paling cantik adalah langitnya ketika matahari terbenam. Wow! Warna jingga, ungu, biru, kemerahan bercampur menjadi satu seperti campuran warna yang dihasilkan dengan finger painting. Sangat magis!

Selain pantai, ada pula tempat pengembangbiakan penyu hijau di Pantai Pangumbahan. Di sana kita bisa melihat telur-telur penyu dan tukik (anak penyu yang baru menetas). Pada siang hari, kami tidak mengunjungi balai pengembangbiakan tersebut dikarenakan keterbatasan waktu. Namun malam harinya, kami melihat proses penyu dewasa bertelur di pantai. Penyu betina dewasa pada malam hari di tanggal-tanggal tertentu naik ke pantai dan bertelur. Untuk melihat prosesnya, kita dilarang menimbulkan suara keras dan menyalakan lampu apapun, karena akan merusak navigasi penyu untuk mencari spot yang menurutnya aman untuk bertelur. Kami baru pertama kali melihat perjuangan penyu bertelur. Penyu keluar dari laut berjalan ke pasir pantai, berputar-putar mencari tempat yang menurutnya tepat, kemudian mulai menggali lubang di pasir, dan bertelur. Sekali bertelur, penyu bisa menghasilkan puluhan telur, setelahnya, dengan tenaga yang tersisa, penyu kembali lagi ke laut. Yang jangan sampai dilewatkan adalah pemandangan langit malam hari di sana. Saya baru kali itu menyaksikan jutaan bintang bertaburan gemerlapan di langit; Seperti kerumunan kerajaan peri bercahaya! Bahkan saya menyaksikan bintang jatuh sebanyak dua kali di sana! Rasanya benar-benar melebihi saat menyaksikan planetarium!


Pagi hari sebelum pulang ke Jakarta, dipandu oleh salah satu ojek yang kemarin kami sewa, kami mengunjungi Curug (air terjun) Cikaso dengan mobil. Lama perjalanan sekitar 20 menit dari penginapan. Sampai di sana, kami diantar oleh seorang pemandu yang usianya masih belasan tahun. Untuk menuju lokasi air terjun, kami harus naik perahu melewati sungai yang airnya berwarna hijau toska dan dingin. Air terjunnya sangat indah! Sesaat seperti gambaran di surga, bila saya tidak berlebihan.

Kolam yang dibentuk air terjun berwarna hijau jernih, sangat menggiurkan untuk direnangi. Namun sayangnya, kami tidak berenang di sana dikarenakan persediaan baju ganti sudah habis. Saat berada di sana, disarankan untuk membawa baju ganti dan memakai sandal yang tidak licin karena akan melewati bebatuan yang licin.

Setelah puas bermain dan berfoto, kami bertolak ke Jakarta. Sungguh keajaiban langit Ujung Genteng dan kedamaian suasananya masih menorehkan kerinduan di memori saya.

*Foto ke-7 dan ke-8 oleh Dimas Apriano