Wednesday, July 27, 2011

Mengecap Sejarah di Sangiran dan Jogjakarta (Bag. I)


Sangiran Perjalanan ini berlangsung pada bulan Agustus 2009. Berawal dari obsesi masa kecil saya ketika duduk di bangku sekolah dasar, saat mengenal nama situs purbakala Sangiran dan melihat foto-fotonya tercetak sederhana di buku pelajaran Sejarah. Di sana terdapat situs penemuan fosil manusia purba, hewan bertulang belakang, hewan air, dan alat-alat bantu peradaban manusia purba.Di situs ini ditemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Fosil lainnya, di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.

Bertolak dari Jakarta dengan bus AC Blue Star jurusan Solo dengan tarif rp 110.000, perjalanan ditempuh selama 12 jam dan sepanjang perjalanan, kami ditemani oleh video karaoke dangdut remix yang dimainkan di TV bus. Saya dan seorang partner perjalanan, turun di pertigaan Kalijambe, kemudian ke arah Desa Krikilan yang berjarak 5 km. Di sana kita akan menemui perempatan dengan arah: kanan ke Museum Sangiran berjarak 1 km, lurus ke Dusun Sangiran berjarak 100 m, dan kiri ke sumber air asin Dusun Pablengan. Dari pertigaan Kalijambe ke Museum Sangiran bisa dicapai dengan ojek sekitar rp 10.000 atau naik angkutan desa rp 2.000 perorang. Ketika saya sampai di sana, matahari baru terbit, sehingga ojek ataupun angkutan desa belum ada. Namun, saat di bus Jakarta-Solo yang kami naiki sebelumnya, kami berbincang dengan seorang pemuda yang berasal dari Sangiran, ia berbaik hati menawarkan kami untuk turut serta mobil angkutan umum yang dicharter oleh keluarga yang menjemputnya.

Sesampainya di Museum Sangiran, alangkah terkejutnya saya dengan kemoderenan museumnya. Bangunannya adalah bangunan baru yang megah dengan selasar berkelok-kelok naik turun. Ternyata, museum sedang direnovasi besar-besaran. Tiket masuk museum sebesar rp 3.000 perorang.

Di dalamnya, terdapat sejumlah ruang pamer yang banyak di antaranya masih belum jadi seutuhnya. Museum Sangiran mempunyai puluhan ribu koleksi fosil, namun hanya sebagian kecilnya saja yang dipamerkan dikarenakan belum rampungnya pembangunan museum. Selain memajang fosil-fosil manusia dan hewan purba, serta alat-alat bantu peradaban purba, di sana juga terdapat diorama kehidupan purba.


Mungkin sebagai saran bagi pihak museum, agar cara penyajian benda koleksi dibuat lebih menarik lagi. Selain itu, tata lampu di dalam ruang pamer yang kurang bagus, hendaknya diperbaiki agar pengunjung dapat lebih nyaman menikmati museum.

Alam pegunungan sekitar museum masih terasa adanya sentuhan purba. Hal tersebut menangkap imajinasi saya untuk membayangkan adanya kehidupan purba berlangsung di tempat itu.

Setelah puas berjalan-jalan di museum, jam 11 siang, kami melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Beruntunglah kami ketika berbincang dengan petugas keamanan museum, ia menawarkan untuk mengantar kami sampai jalan raya pertigaan Kalijambe, karena angkutan desa agak lama datang dan ojek juga tidak ada. Kemudian dari pertigaan, kami naik bus ¾ (rp 3.000 per orang) ke terminal Tirtohadi. Perjalanan memakan waktu sekitar 20 menit. Dari terminal Tirtohadi, kami naik bus jurusan Jogja (rp 10.000 per orang).

‘Berziarah’ ke Museum Taman Prasasti



Museum Taman Prasasti terletak di Jl. Tanah Abang I Jakarta Pusat. Dahulu, tempat ini merupakan pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk (Sekarang Mueum Wayang) yang sudah penuh. Pada tanggal 9 Juli 1977, pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan museum dan dibuka untuk umum dengan koleksi prasasti , nisan, makam sebanyak 1.372 yang terbuat dari batu alam, marmer, dan perunggu.*)

Februari 2009, memasuki areal museum, kami disambut oleh seekor rusa yang baru saja ditinggal mati pasangannya. Museum ini berupa taman berpohon besar rindang, dengan koleksi prasasti, foto-foto, miniatur makam 27 propinsi di Indonesia, peti jenazah Soekarno dan Hatta, serta kereta jenazah antik.




Seluruh mayat di taman makam ini sudah dipindahkan, kecuali makam Kapitan Jas yang tidak bisa dipindahkan karena mayatnya sudah terbelit akar pohon dan akan rusak apabila dikeluarkan. Meskipun bukan lagi berupa pemakaman, namun aura mistis syahdu masih bisa terasa di sini.

Beberapa prasasti yang dapat kita temukan di sini antara lain adalah A.V. Michiels (tokoh militer Belanda pada perang Buleleng), Dr. H.F. Roll (Pendiri STOVIA atau Sekolah Kedokteran pada zaman pendudukan Belanda), J.H.R. Kohler (tokoh militer Belanda pada perang Aceh), Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda dan Singapura), Kapitan Jas (makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan), Miss Riboet (tokoh opera pada tahun 1930-an), Soe Hok Gie (aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an). *)

*) http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Taman_Prasasti


Tuesday, July 26, 2011

Ngarai Asa Green Canyon

Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, berjarak 31 km dari Pangandaran. Nama Green Canyon dipopulerkan oleh seorang wisatawan Perancis yang pernah berkunjung ke sana, dikarenakan sungai yang diapit oleh tebing-tebing tinggi , airnya berwarna hijau zamrud. Penduduk sekitar mengenal daerah tersebut dengan nama Cukang Taneuh yang artinya jembatan tanah karena terdapat jembatan yang lebar dan panjang menghubungkan antara Desa Kertayasa dengan Desa Batu Karas. Perjalanan dari Jakarta hingga ke Batu Karas dengan mobil pribadi ditempuh selama 5-6 jam, namun yang kami alami adalah 11 jam dikarenakan kemacetan.

Saya dan beberapa teman berkunjung ke sana di saat yang kurang tepat, karena bertepatan dengan long weekend di bulan Juli 2009. Reservasi di Penginapan Teratai yang dilakukan jauh-jauh hari ternyata tetap mengecewakan, karena sesampainya di sana, malam hari, kamar yang sudah kami pesan diberikan kepada pemilik penginapan yang sedang berkunjung ke sana, padahal selama perjalanan kami selalu berhubungan dengan contact person penginapan tersebut. Alhasil dengan tenaga yang tersisa, kami mencari penginapan yang masih tersedia. Namun sayangnya, itu sangat sulit, karena seluruh penginapan penuh. Kami mencari apapun tempat yang bisa digunakan untuk bermalam, dari hotel berbintang di Pangandaran hingga mesjid. Tapi hasilnya nihil. Bahkan mesjidpun tidak bisa dimasuki karena dikunci pada malam hari.

Untungnya, menjelang tengah malam, ketika kami sampai di penginapan The Reef di Batu Karas, secara kebetulan ada satu pengunjung yang akan keluar malam itu. Akhirnya kami menunggu beberapa jam untuk bisa masuk kamar. Kamarnya sederhana, hanya terdiri dari 1 spring bed king size, kipas angin, dan kamar mandi tak berpintu. Udara malam hari di sana ternyata lumayan dingin. Meskipun satu kasur sudah berlima dan tidak ada AC, tak disangka, kami masih kedinginan juga.

Esok subuh, dengan badan kaku (akibat tidur berdempetan dan kedinginan), kami bergegas berangkat ke Green Canyon. Loket pembelian tiket masuk ke Green Canyon dibuka pukul 7 pagi, tapi untuk menghindari keramaian, kami berusaha sampai sana sepagi mungkin. Tiket yang dibeli adalah untuk sewa satu perahu dan tiket masuk perorangan, dengan fasilitas seorang pemandu dan life jacket. Untuk mencapai lokasi canyon, kita menyusuri sungai Cijulang dengan perahu yang disebut ketinting berkapasitas 5 penumpang. Jarak dari dermaga ke lokasi canyon sekitar kurang dari 10 menit. Sepanjang perjalan, kami disuguhi pemandangan yang indah. Air sungai yang berwarna hijau zamrud, kanan kiri terdapat tebing tinggi yang ditumbuhi pepohonan, serta udara yang sangat sejuk.


Akhirnya, tibalah kami di tempat yang menyempit, hingga perahu tidak dapat lagi melewatinya, kami turun dari perahu dan bertengger di bebatuan. Dikarenakan banyaknya pengunjung, kami harus menunggu giliran untuk memasuki kawasan menyerupai gua tempat kami berenang-renang, inilah yang disebut sebagai Green Canyon. Sungai yang mengalir di batasi tebing-tebing tinggi yang mengungkung tempat tersebut menyerupai gua, di penghujungnya terdapat air terjun.


Untuk menyusuri sungai berwarna zamrud tersebut, kami berenang dan terkadang harus memanjat tebingnya.


Di sana juga terdapat spot tebing menjulang setinggi kurang lebih 3 meter untuk tempat loncat. Sungguh indah tempat ini, apalagi ketika kita sambil mengapung melihat pemandangan ke atas , rasanya segala penat telupakan. Tips untuk mengunjungi Green Canyon, datanglah di saat bukan musim hujan, karena saat musim hujan, air sungai tidak berwarna hijau, melainkan coklat dan aliran sungai menjadi deras, cenderung bahaya untuk direnangi.

Setelah menghabiskan waktu selama 2-3 jam, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. Ketika kami kembali ke dermaga, kawasan tersebut sudah penuh, lapangan parkir mobil yang tadi pagi masih lengang, saat itu sudah penuh sesak. Jadi, sangat direkomendasikan untuk datang ke Green Canyon sepagi mungkin untuk menghindari keramaian.

Kami makan siang di salah satu tempat makan di Batu Karas yakni Kang Ayi. Tempat ini direkomendasikan oleh seorang teman, katanya terkenal dengan pancake pisangnya. Di sana kami juga memesan seafood yang patut untuk dicoba.

Setelah makan siang, kami bertolak ke Pangandaran untuk mencari penginapan di sana. Lagi-lagi seluruh penginapan penuh, akhirnya kami mendapat sebuah kamar sederhana di suatu penginapan yang menyerupai tempat kos. Di depan penginapan, malam hari, terdapat tenda yang menjual sate ayam kampung yang tak disangka-sangka rasanya enak sekali.

Sore harinya, kami mengunjungi cagar alam di ujung pantai Pangandaran, berbentuk pulau. Kawasan ini bisa dicapai dengan perahu hanya berjarak kurang dari 5 menit, ataupun jalan darat. Kami membayar tiket masuk dan diantar berkeliling oleh seorang pemandu.

Di kawasan ini, terdapat goa Jepang yang konon beberapa kali sering dijadikan lokasi syuting adu nyali. Selain itu, terdapat goa alami dengan stalagtit dan stalagmit yang banyak menyerupai berbagai bentuk, seperti nenek lampir, alat kelamin pria dan wanita, dan banyak lagi.

Ada pula beberapa makam keramat yang dipercaya adalah makam keturunan Wali Songo. Sepanjang menyusuri kawasan cagar alam tersebut, kami melihat beberapa hewan liar seperti rusa, kera berlalu lalang dan bersembunyi dari pengunjung.

Malam harinya, kembali kami tidur berdesakan karena tempat tidur yang tersedia hanyalah 2 buah tempat tidur kayu single size. Meskipun banyak pengalaman tidak menyenangkan selama perjalanan, namun tetap tidak mengurangi esensi kenikmatan perjalanan kami.