Sunday, May 1, 2011

Satu Dua Kerang

Satu kerang menyepi
Satu kerang menepi
Dua kerang memimpi

Satu kerang mengeri
Satu kerang menyeri
Dua kerang melari

Satu kerang menyepi
Satu kerang menepi
Dua kerang menari

Satu kerang menyigi
Satu kerang menyepi
Dua kerang me...
Dua kerang...
Ah,
Satu kerang menyepi

Monday, August 30, 2010

Salvasi - Sebuah Elegi

Rumahku terbuat dari karang
Sudah lama mati, kubiarkan saja
Kau datang
Menghidupkan kembali karang-karang itu
Merah, biru, hijau, emas
Hampir ku lupa keindahannya

Kadang aku masih sering tenggelam
di bawah sana masih ada pusaran mengerikan
Kau selalu menarikku keluar
Membawaku ke atas, lalu naik balon udara
Kau bilang:
"Lihat, dari sini semua terlihat indah, bukan?"
Kengerianku terhapus sudah
Tergantikan senyum

Sering aku meragukan adanya seorang penyelamat bagiku
Mengancammu dengan pisau
Agar aku yakin ini bukan hanya proyeksi simpatik pikiranku
Kau bilang:
"Tusuk aku. Tapi aku harus memakai baju baja ini agar aku masih dapat melindungimu nanti."
Kutusuk kau
Pisau patah
Ternyata kau nyata

Suatu hari kau sedang sibuk membangun rumah kita
Rumah impian
Aku menuntut terlalu banyak detil
Melebihi limit yang kau sanggup
Kau menjadi garang
Aku marah seperti biasa
Kau gusar luar biasa
Ku ancam kau dengan pisau
Satu-satunya senjata yang ku tahu
Seperti biasa kau bilang:
"Tusuk aku."
Tapi kali ini kau tak pakai baju baja-mu
Dengan gelisah tetap kuterjang kau
Ternyata kau pun belum siap untuk tertusuk
Kau tampis tanganku, pisau menancap balik ke dadaku
Satu milimeter dekat jantung
Sakit sedikit
Tidak
Aku bohong
Sakit luar biasa dahsyat
Merah mewarnai bajuku

Kau menjerit histeris
Aku tergolek di tanah
Pandanganku hanya mengarah ke satu titik
Diikuti luncuran kata-kata berlumur darah:
"Bertahanlah. Ini rumah kita."

Monday, June 21, 2010

Air Genangan

Damai penuh inspirasi seperti air danau
Indah memikat seperti air sungai
Penuh keriaan seperti air kolam renang
Itu bukan aku

Jangankan keperkasaan air laut,
kesukacitaan rintik hujan,
kefaedahan air sumur,
bahkan kemudharatan air bah pun aku tiada

Hanya satu-dua kucing menghampiriku
meregukku satu-satu dalam keputusasaan
tak sudi ia berbanyak-banyak
Padahal tiada pula ia membaca kitab biologi

Kadang aku merintih saat terlindas
Pelak pula aku menjadi sumber melankoli
Volume air mataku hanya mengundang umpatan manusia
Ah... Apa peranku ini?

(June 22nd, 2010)